AGUS NGADINO : TIDAK MUSTAHIL, MAHASISWA LEBIH CERDAS KETIMBANG DOSEN



Profil Dosen Agus Ngadino

Palembang, Media Sriwijaya - Dosen kelahiran Sukoharjo, 07 Agustus 1980 yang mengajar bidang Hukum Administrasi Negara (HAN) ini dikenal dengan sosok dosen yang bijak, inspiratif, dan memiliki wawasan yang luas.  Beliau menempuh pendidikan S1 di
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (2004) dan melanjutkan studi pendidikan S2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2006). Beliau mengungkapkan bahwa ia pertama kali mengajar sebagai dosen Universitas Sriwijaya pada tahun 2008 silam. Saat ditemui tim Media Sriwijaya disela-sela istirahat, ia sendiri bercerita bahwa saat melamar pekerjaan menjadi dosen merupakan cita-citanya sejak kecil dan berkeinginan menjadi seorang Ilmuwan. “Dosen merupakan bidang yang tepat untuk mewujudkan itu karena filosofisnya sederhana yaitu ada idealisme disana seperti mentranformasikan gagasan. Hal ini dikarenakan  saya mengagumi bidang keilmuwan,” terangnya. Selain itu, sejak awal ia sudah mengikhlaskan mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada mahasiswa, tidak mustahil sewaktu-waktu mahasiswa akan lebih hebat daripada pengajar dan kita harus mengikhlaskan karena menekuni bidang keilmuwan. Jadi intinya mahasiswa harus bisa jauh lebih baik ketimbang apa yang kita lakukan sekarang. Maka dari itu, menjadi seorang dosen banyak sukanya sangat mengajar ketimbang dukanya.
            Beliau bercerita bahwa sejak tahun 2010 ia memiliki 3 pilar yaitu dalam pengembangan mahasiswa salah satunya debat dan dari 2010 sampai sekarang sudah berprestasi baik itu Regional maupun Nasional. Pilar selanjutnya yaitu kapasitas menulis karya ilmiah yang menjadi kekurangan kita, dikarenakan salah satu faktornya adalah minimnya jam terbang karena kebanyakan mahasiswa baru terjun menulis karya ilmiah saat memulai proposal skripsi. Ketiga peradilan semu dengan mengembangkan kompetisi dan mendorongnya ke tingkat berbagai kompetisi. Sehingga jika pilar semua pengembangan mahasiswa tersebut membuahkan suatu prestasi maka akan memberikan karakteristik tersendiri bagi Fakultas Hukum Unsri di luar sana.
Beliau banyak berbicara tentang konsep berpikir mahasiswa, salah satunya mengenai filosofi pemikiran yang dialami saat sekolah menengah atas sehingga pemikiran siswa lebih diatur dan di doktrin, sedangkan saat di Perguruan Tinggi mahasiswa diberi kesempatan dan  lebih  bebas berpikir dengan tidak melupakan tanggung jawabnya. Proses pembelajarannya tentu berbeda dengan karakteristik yang berbeda pula.
Akan tetapi saat memasuki jenjang perguruan tinggi, orientasi berpikir mahasiswa juga belum tentu lebih baik dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan mahasiswa tersebut kuliah tidak sesuai dengan minatnya, belum lagi mahasiswa tersebut cepat atau tidak beradaptasi pada perguruan tinggi tersebut dan mahasiswa tersebut hanya kuliah-kuliah saja serta ada juga mahasiswa yang aktif dan kompetitif. Sehingga karakteristik-karakteristik tersebut harus dihadapi oleh dosen dengan cara menggali karakter-karakter mahasiswa dengan potensi yang mereka miliki. Salah satunya, seperti mahasiswa berani dan punya kemampuan untuk berbicara tersebut diberikan tempat untuk berdebat begitupun juga mahasiswa yang suka menulis harus diberikan tempatnya untuk menulis karya ilmiah sehingga proses pembelajaran lebih bervariatif.
Beliau juga memberikan masukan bahwa untuk mengembangkan potensi-potensi mahasiswa yaitu dengan cara mengikuti ekstrakurikuler yang dimana bisa menjadi tempatnya mahasiswa saling berkomunikasi dengan mengikuti forum-forum  sehingga membangun komunikasi itu sendiri. Tetapi dengan syarat ilmu hukumnya harus diterapkan, sayangnya hal ini justru belum diaplikasikan. Dalam konsep aksi demonstrasi mahasiswa, menerapkan ilmu hukum akan jauh lebih elegan. Jadi, dengan mengikuti ektrakurikuler maka mahasiswa akan lebih banyak mendapatkan tempat untuk terus menggali potensi yang lebih variatif ketimbang saat proses perkuliahan yang waktunya memang sempit dan tidak bisa mengamati mahasiswa secara intens.
Beliau juga menyampaikan saran kepada mahasiswa untuk sering membaca akan tetapi jangan hanya terfokus pada 1 buku saja. Dengan membaca semakin banyak hal yang kita tidak ketahui sebelumnya menjadi tahu. Dan sekali lagi beliau mengungkapkan pentingnya mengikuti ekstrakulikuler untuk membentuk dan membangun potensi mahasiswa. Selain itu, setiap organisasi yang ada untuk tidak saling fokus pada organisasi itu sendiri melainkan harus ada saling komunikasi dengan organisasi lain, sehinggga menciptakan kompetensi yang komplit di bidang hukum  yang mampu diterapkan di dunia nyata, dan mampu mengubah budaya Fakultas Hukum Unsri ini jauh lebih baik. Beliau mengungkapkan bahwa setiap ilmu dan pengalaman untuk berbicara menyampaikan pendapat dan gagasan yang luas agar dapat di transformasikan ke orang lain yang dilakukan secara ikhtiar sehingga pembelajaran ini menjadi ibadah karena demi kebaikan. (Fad)
           
Previous
Next Post »